Minggu, 5 Desember 2021
BerandaOpinionSastra dan Masyarakat Awam

Sastra dan Masyarakat Awam

Oleh: dr. Sitti Aida Azis, M.Pd.

Masih teringat saat kuliah di Unesa. Suatu sore dikontrakan saya membaca novel Ketika Cinta Bertasbih karya  Habiburrahman El Shirazy. Karena terlalu fokus sehingga tidak menghiraukan kawan-kawan  adik se-kontrakan yang datang, tapi mereka memperhatikan saya. Salah seorang bertanya, “Kak ceritanya pasti seru.” Jawabku, “Ya.” “Dari tadi saya memperhatikan Kakak, kadang geleng-geleng, senyum-senyum,  muka heran,  cemberut, bahkan terisak”, lanjutnya. “Apa sih ceritanya, Kak? “Ya seru,” jawabku. “Tolong dong diceritakan”. Amanahnya cantik, kataku. Cantik maksudnya apa? “Terkadang cinta itu  tidak harus dimiliki. Cinta yang hakiki adalah cinta dari dasar hati bukan karena nafsu ingin memiliki. Itu amanahnya.”

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Mereka seakan berharap ingin mengetahui ceritanya, maka kuceritakan cuplikannya. Cerita ini berkisah tentang cinta sayang dibalut dengan moral dan agama.

Tokohnya  bernama Khoirul Azzam, pemuda sederhana, tampan, berwibawa, soleh, cerdas dan teguh pada prinsip. Ia kuliah S1 di Al-Azhar, Cairo Mesir. Menempuh  pendidikan cukup lama hampir sembilan  tahun  sebab ia harus bekerja untuk menafkahi keluarganya di Indonesia (tulang punggung keluarga). Di Mesir ia menjual  tempe dan bakso. Maka digelari tukang tempe, atau tukang bakso.

Langganan tempenya banyak dari beberapa kalangan termasuk Kantor Kedutaan RI di Mesir. Seandainya ada acara di kedutaan, diminta untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Adanya momen seperti ini,  Azzam mengenal  Eliana,  wanita cantik, cerdas, mandiri.  Anak  dari Duta Besar Indonesia untuk Mesir. Lulusan  salah satu Universitas di Jerman. Azzam jatuh hati pada Eliana, tapi khawatir untuk menyatakan. ternyata Eliana pun menaruh hati pada Azzam.

BACA JUGA: Simfoni Cinta Ho Eng Dji

Kisah berlanjut, Azzam menolong seorang wanita yang hampir cederah bernama Anna tapi menggunakan nama samaran Abdullah. Keduanya saling memikat, pun tidak bisa berlanjut karena status sosial terlalu jauh. Malah Anna dilamar oleh Furqan sahabat Azzam  melalui Ustadz Mujaib. Kendati Anna selalu mengharap laki-laki yang memikat hatinya bertemu kembali,  yaitu Azzam.

Ternyata keluarga Azzam sudah mengenal baik dengan Anna, bahkan ibu dan adik-adiknya mengharap Azzam dan Anna berjodoh, tapi tidak kesampaian. Setelah Anna menikah, ibunya meminta Azzam mencari jodoh, akhirnya ditemukan yang cocok dan akan terjadi pernikahan.

Sehari sebelum pernikahan, ibunya meminta  diantar ke rumah Pak Kyai  Lutfi untuk memberi ceramah nasihat pernikahan. Namun di perjalanan mendapat musibah berat, ibunya meninggal dan Azzam patah lumpuh. Pernikahan tidak jadi, bahagia dinanti yang datang duka. Cincin pernikahan dikembalikan.

Di sisi lain, perjalan pernikahan Anna dan Furqan tidak semulus yang diharapkan. Ternyata Furqan mengidap HIV karena itu Furqan tidak pernah menyentuh Anna, Selama pernikahan enam bulan hanya sandiwara tiap saat, dan akhirnya pernikahan bubar.

Azzam yang lumpuh sudah sehat dan kembali seperti dulu. Ia mendatangi Pak Kyai untuk meminta bantuan dicarikan jodoh sebagaimana pesan ibunya. Azzam merunduk memperlihatkan cincin yang batal kepada Pak Kyai. Ia berkata, “Maaf Pak Kyai, siapa tahu ada santri yang cocok dengan cincin ini.” Kyai Lutfi menceritakan seorang wanita yang diceraikan suaminya karena suatu hal dan wanita itu masih suci. Kyai Lutfi mengharap Azzam mau menerimanya. Tampa berpikir baik buruknya,  Azzam menerima tawaran Pak Kyai.

Azzam sangat bahagia setelah dipahami bahwa yang akan menjadi istrinya adalah wanita yang dicintainya. Demikian pula Anna sangat bahagia karena yang dinanti-nanti adalah pujaannya.

Demikian, cerita singkat saya kepada mahasiswa S2 PGSD, Biologi dan Fisika. Mereka bukan berlatar belakang pendidikan humaniora. Mereka adalah eksakta, yang tidak memahami apa itu sastra, sifat sastra, manfaat sastra atau yang terkait dengan sastra. Tetapi mereka menikmati karya sastra. Bahkan di antara mereka ada yang terisak, ada yang merenung, mungkin karena saya bercerita pun dengan rasa.   Memang mereka menikmati.

Setelah itu,  kalau ada senggang dengan tugas- tugas, mereka membawa novel. Bahkan bukunya masih disegel dengan harapan saya ada waktu membaca dan menceritakannya. Ternyata saya ada tugas tambahan, lelah tapi menyenangkan karena saya dinanti oleh mereka.

Hal yang serupa pernah pula terjadi sewaktu anak-anak teater latihan musikalisasi puisi. Mereka menggelar di halaman rumah, ada beberapa yang menonton. Termasuk Daeng Becak (sapaan bagi orang Makassar) senyum-senyum menikmati anak teater yang berlatih. Sebelum bubar latihan, saya menghampiri salah seorang Daeng Becak dan bertanya, “Apakah yang Daeng tonton tadi dipahami? Jawabnya,  “Tidak, saya hanya suka menonton.”

Bukan hanya pengalaman mahasiswa dan Daeng Becak yang merasa senang mendengar cerita atau menyaksikan latihan pentas musikalisasi. Ada percakapan antara suami dan istri tentang film yang tayang tahun 40-an tepatnya 1949.  Film tersebut Air Mata Kali Citarum. Viral waktu itu. Sutradara dan pemainnya saya tidak pahami karena kurang jelas. Saya hanya  mendengarkan percakapan suami istri bahwa mereka sangat menikmati ceritanya. Tokoh yang berlakon (anak perempuan) yang bernama Hasnah adalah anak kebanggaan orang tuanya dan keluarganya. Anak yang patuh, berakhlak baik, penyayang, penyabar dan iba kepada sesama terkhusus buat kedua orang tuanya. Sementara keluarga tersebut tergolong prasejahtera dan Hasnah-lah yang dominan membantu mencari nafkah.

BACA JUGA: Kaddo Caddi, Tradisi yang Masih Lestari

Karena senangnya dengan film tersebut, maka keluarga itu menonton kedua kalinya. Di saat itulah suaminya berkata, “Insya Allah, seandainya anakmu lahir  perempuan kita namakan Hasnah. Saya suka dengan anak itu. Semua orang tua pastikan mengharap kalau anaknya perempuan seperti Hasnah.” Saat itu mereka menanti kelahiran anak kedua

Bahasa adalah doa, istrinya melahirkan anak perempuan, maka dinamai-lah Hasnah. Doa terkabul, ternyata karakter Hasnah  (remaja dan dewasa) dalam film terwujud dalam dunia nyata. Siapa Hasnah dalam dunia nyata? Ia dalah kakak saya yang dilahirkan tidak sederajat dengan orang berkecukupan. Orang tua Hasnah seorang tuang jahit yang tidak berdiploma, ia sederajat loakan. Ibunya Hasnah adalah ibu rumah tangga tulen yang tekun mengasuh anak-anaknya dengan kasih dan cinta yang hakiki.

Pertanyaan kembali terucap, apakah mahasiswa, penonton teater dan kedua orang tua Hasnah, memahami ilmu sastra, memahami apa itu sastra, fungsi sastra, dan hakikat sastra. Jawabannya tidak. Mereka hanya menikmati, memaknakan, mengaplikasikan dalam kehidupannya. Hal ini sejalan dengan fungsi sastra sebagaimana yang diungkapkan oleh A Teew, bahwa fungsi karya sastra secara tidak sadar tergantung pada pengalaman pembaca, penyimak, dan penonton. Hal ini terjadi karena ke­se­lu­ruh­an konvensi sastra merupakan sebuah sistem yang banyak seluk-beluk­nya, rumit hirarkinya dan sering kali kacau.

Di samping itu, menurut Edgar Alan Poe, menikmati karya seni dan sastra penge­tahuan seseorang akan bertambah. Melalui tokoh-tokoh­nya, seseorang dapat belajar memahami sifat-sifat manusia tanpa perlu be­lajar psikologi lebih dahulu secara khusus. Selain itu, seseorang dapat me­­nambah wawasannya tentang filsafat, karena karya seni atau sastra yang baik biasanya mengandung nilai-nilai filosofis. Melalui nilai ini seseorang dapat menafsirkan makna ke­hidupan manusia dan sekitar­nya serta kebe­naran yang diungkapkan oleh pengarang. Dengan begitu,  karya seni dan sastra juga ber­fungsi sebagai pelatihan mental. Dengan membaca sastra akan membuat se­seorang bertanya-tanya atau berpikir mengenai maksud yang ingin disampaikan oleh pengarang. Hikmah apa yang dapat dipetik dari karya sastra tersebut.

Berangkat dari rangkaian kalimat-kalimat tersebut, dapat dipahami bahwa sastra adalah hiburan, sastra adalah kawan, sastra adalah nadi, sastra adalah suluh, dan sastra adalah asupan. Semoga ada manfaat.

Makassar, 08 Juli 2021

*Penulis adalah dosen Universitas Muhammadiyah Makasar, dan Sekretaris 1 DPP Cebastra

+ posts
- Advertisement -
AnyFlip LightBox Embed Demo
BERITA TERBARU
- Advertisement -spot_img
Popular
terkait
- Advertisement -spot_img