Senin, 6 Desember 2021
BerandaOpinion“Sampeyan Ayam Apa Ikan?”

“Sampeyan Ayam Apa Ikan?”

Oleh: Dr. Bibit Suhatmady, M.Pd.

Saat berkomunikasi, kita mengeskpresikan diri kita melalui bahasa yang kita gunakan. Bahasa yang kita gunakan ini biasanya muncul dalam bentuk ujaran atau teks. Kemudian muncul menjadi wacana dalam masyarakat di mana kita memproduksi bahasa tersebut.

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Wacana-wacana ini selanjutnya akan menyatu dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat menjadi pola-pola konvesi atau kesepahaman dalam masyarakat tersebut. Kemudian, pola-pola konvensi tersebut akan membentuk kompleksitas makna secara sosio-kultural masyarakatnya.

Dengan kata lain, dalam memaknai bahasa kita harus mempertimbangkan siapa yang mengujarkan atau membuat teks bahasa tersebut. Kepada siapa ia ingin menyampaikan pesan dalam ujaran atau teks yang dibuatnya? Pada situasi dan kondisi sosial seperti apa ujaran atau teks diproduksi? Pada ranah budaya apa ujaran atau teks tersebut dibuat?  Berhasil atau tidaknya sebuah wacana dikomunikasikan akan sangat tergantung pada si pembuat wacana. Yakni, ‘membaca lingkungan’ di mana wacana tersebut ingin ia lemparkan.

Baca Juga: Marah yang Tidak Beretika: Bagaimana Bentuk Bahasanya?

Ada sebuah percakapan antara ibu pemilik warung makan dan seorang pelanggan yang ingin makan siang di warung tersebut. Si ibu bertanya, “Sampeyan ikan apa ayam mas?” Dengan ikhlas si pelanggan menjawab, “Saya ayam saja bu”. Dalam percakapan ini, si ibu pemilik warung sudah sangat memahami konvensi makna yang berlaku dalam konteks sosial di warungnya. Demikian pula dengan pelanggannya.

Pertanyaan si ibu menjadi wacana yang ‘aman’ pemaknaannya. Ini dikarenakan pesan yang disampaikan  menjadi kesepahaman bersama antara si ibu sebagai penutur dan si pelanggan sebagai petutur.  Percakapan ini adalah sebuah contoh makna wacana yang disampaikan oleh seorang penutur akan dapat terkomunikasikan dengan baik kepada petuturnya. Wacana tersebut disampaikan pada sosio-kultural konteks yang tepat.

Baca Juga: Membaca Bahasa Hegemoni Suami terhadap Istri dalam Budaya Patriaki

Bisa kita bayangkan jika kita berada di sebuah halte bus. Tiba-tiba ada seseorang yang bertanya,”Sampeyan ayam apa ikan?”. Sudah barang tentu kita akan menemui kesulitan untuk memaknai wacana yang di sampaikan oleh orang tersebut. Ia menyampaikannya tidak pada konteks yang sesuai. Dengan demikian, konteks menjadi prasyarat yang substansial dalam memaknai wacana.

Untuk memahami pentingnya konteks dalam memaknai sebuah wacana, mari kita perhatikan contoh wacana berbentuk teks tertulis ini. ‘1 LUBANG Rp. 50.000’. Apa yang terjadi jika ada 10 orang yang diminta untuk memaknai kata ‘LUBANG’ dengan pertanyaan “Lubang apakah itu?”

Baca Juga: Desa Indah di Suriah yang Masih Menggunakan Bahasa Yesus Bernama Maalula

Mereka juga tidak diberikan satu konteks situasi yang sama mengenai keseluruhan wacana tersebut. Maka, mungkin akan ada 10 jawaban berbeda terkait makna kata ‘LUBANG’ dari kesepuluh orang tersebut.

Pemaknaannya menjadi sangat bebas dan liar, tergantung masing-masing dari 10 orang tersebut memberikan konteks menurut versi masing-masing orang. Jawabannya bisa saja, “Itu lubang sumur, saya pernah melihat tulisan itu di rumah penggali sumur.” Atau, “Itu lubang gigi, waktu saya ke dokter gigi, saya melihat tulisan itu di ruang tunggu.” Bisa jadi, “Itu lubang ban bocor, saya membacanya di bengkel tempat saya menambal ban mobil saya yang bocor.” Dan seterusnya sesuai konteks yang diberikan oleh orang yang membaca tulisan tersebut.  

Baca Juga: Ada yang Baru! Sertifikat Vaksinasi COVID-19 Kini Tersedia dalam Bahasa Inggris

Pada kasus-kasus pemaknaan bahasa yang muncul dalam wacana-wacana liar di media sosial, kita sering dihadapkan pada kondisi ‘lost in translation’. Yakni  bingung bagaimana seharusnya memaknai wacana-wacana tersebut. Misalnya, ketika kita mendapatkan sebuah pesan berantai yang sudah sering diteruskan oleh orang-orang dalam lingkaran pertemanan kita di media sosial.

Kita akan kesulitan mengidentifikasi siapa penulisnya, kapan tulisan itu, di mana dan pada situasi tulisan itu dibuat. Juga kepada siapa sesungguhnya tulisan itu ditujukan? Apa yang melatarbelakangi tulisan tersebut, apa tujuan penulisannya. pada konteks sosiokultural seperti apa tulisan itu dibuat? Dalam kondisi seperti ini, kita sebagai pembaca pesan berantai tadi akan berada pada posisi seperti kesepuluh orang itu. Mereka yang mencoba memaknai kata ‘LUBANG’ seperti pada contoh di paragraf sebelum ini.     

Ada satu catatan penting dalam tulisan ini.  Ketika seseorang melemparkan sebuah wacana (baik dalam bentuk lisan ataupun tulisan) ke publik, maka wacana tersebut akan menjadi milik publik. Terjemahan makna sesuai dengan interpretasi publik terhadap wacana tersebut. Dalam mengomunikasikan wacana yang akan kita publikasikan di ranah publik, yang harus kita lakukan adalah memastikan tujuan membuat wacana tersebut.

Kepada siapa wacana ini kita tujukan, dan sudah sangat jelaskah koridor konteks (waktu, tempat, situasi, kondisi sosio-kultural) yang kita berikan. Jika kita sudah memfasilitasi langkah-langkah tersebut, maka kita akan memberikan akses bagi orang lain. Mereka yang akan memaknai wacana yang kita buat tersebut. sesuai dengan pesan yang ingin kita sampaikan di dalamnya. Akhirnya, jika ada yang bertanya, “Sampeyan ayam apa ikan?” dalam koridor langkah-langkah di atas, maka jawaban kita adalah …

*Penulis adalah dosen Universitas Mulawarman  dan Ketua 1 Perkumpulan Cendekiawan Bahasa dan Sastra (Cebastra)

+ posts
- Advertisement -
AnyFlip LightBox Embed Demo
BERITA TERBARU
- Advertisement -spot_img
Popular
terkait
- Advertisement -spot_img