Senin, 6 Desember 2021
BerandaOpinionInflasi Kesakralan Kata "Sabar" pada PPKM Darurat

Inflasi Kesakralan Kata “Sabar” pada PPKM Darurat

Oleh: Dr. Muh. Fajar, M.Pd.

Sejak diberlalukannya PPKM Darurat tanggal 3 Juli 2021, pemberitaannya sangat masif baik oleh media mainstream baik cetak maupun visual. Bahkan omongan-omongan di warung warung kopi semakin meningkat saja. Banyak hal-hal yang menjadi perhatian obrolan tersebut. Mulai banyaknya jalan yang disekat, sepinya warung kopi dan jualan makanan karena harus take a way, serta di tempat-tempat lainnya. Dari berbagai obrolan ngalor ngidul tersebut. Ada satu kata yang menarik untuk dilihat pada pemberlakuan PPKM ini, yaitu kata “sabar”. Loh kenapa? Apa yang terjadi dengan kata “sabar”?

- Advertisement -Iklan BTC Guest House

Iya “Sabar”, merupakan sebuah kata yang sering didengar dalam sebagian besar obrolan. Khususnya saat pemberlakuan PPKM Darurat 2021. Demi untuk mengurangi mobilitas warga di jalan dan mengurangi adanya kerumunan.

Ketika saya ngobrol dengan banyak orang baik di angkringan–angkringan, warung makan , tempat kerja dan lain lain. Sebagian besar mereka sering mengucapkan “sabar” dalam menghadapi pemberlakukan PPKM darurat dengan segala efeknya.

“Sabar” sebelum menggema seperti saat ini. Seringkali kita hanya mendengarnya ketika ada khutbah jumat atau orang tua dan pimpinan suatu unit kerja memberikan petuah dalam menghapi realitas kehidupan.

Baca Juga: Terdampak Pandemi, Pedangdut Magetan Jualan Pecel

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memberikan makna “Sabar” sebagai tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); Serta tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu. Dengan demikian apakah masyarakat memang bisa sabar menghadapi situasi ini sesuai dengan definisi tadi?

Ketika PPKM Darurat sudah diberlakukan kurang lebih dua minggu. Mulai tanggal 3 sampai dengan 20 Juli 2021, banyak orang mengucapkan “sabar” ini.

“Sabar” yang dulunya bisa dikatakan sebagai kata yang sakral. Tetapi pada saat PPKM Darurat ini telah mengalami penurunan kesakralaan alias kehilangan “roh”. Sesungguhnya makna “sabar” karena mengalami peningkatan yang luar biasa penggunaannya. Tetapi efek sakralnya untuk meneduhkan hati seseorang semakin turun.

Baca Juga: PPKM Darurat Diperpanjang, Wakil Ketua MPR RI Desak Pemerintah Segera Salurkan Bantuan

Sehingga bisa dikatakan bahwa kesakralan kata “sabar” telah mengalami inflasi. Loh koq bisa? Iya kerena pengucapan kata “sabar” sangat massif digunakan sebagian besar orang untuk saling menasehati dalam situasi seperti ini.

“Sabar” tidak hanya sekedar diucapkan oleh para pengkhutbah ataupun orang tua yang menasehati anak anaknya. Melainkan sudah hampir banyak orang yang mengucapkan kata ini kepada teman diskusinya menghadapi situasi ini.

Memang menurut KBBI, kata “Inflasi” diartikan sebagai kemerosotan nilai uang (kertas) karena banyaknya dan cepatnya uang (kertas) beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang-barang.

Baca Juga: Kasihan… 36 Bus Langgar Aturan saat PPKM Darurat Diamankan Polisi

Tetapi ketika disesuaikan dengan situasi seperti sekarang ini tentang penggunaan kata “sabar” menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan yang luar biasa. Penggunaan kata “sabar” tetapi sangat paradox dengan efek yang dihasilkan yakni mengurangi rasa bimbang dan nasib yang nggak jelas dalam siatuasi seperti ini. Seperti yang disampaikan oleh salah satu pemilik angkringan di Jombang. Ia mengatakan bahwa dirinya disuruh sabar terus tetapi sampai kapan bisa sabar. Hal ini dikarenkan angkringannya harus tutup jam 8 malam karena ada patroli dari Satgas COVID-19.

Dengan mengalami inflasi makna kata “sabar” maka efeknya terjadi penurunan kesakralan kata “sabar”.  Kita semuanya memang benar-benar dihadapkan situasi sulit ini dalam membantu pemerintah mengurangi lonjakan pasien positif Covid-19 ini.

Baca Juga: PPKM Darurat Tidak Berjalan Efektif, Pengamat Politik Bilang Presiden Harus Ambil Alih

Dengan demikian, indikator yang dapat digunakan untuk mengukur inflasi kesakralan makna kata “sabar”. Yaitu dengan adanya pergerakan yang terus meningkat dalam penggunaan atau pengucapan “sabar”. Yang dilakukan oleh sebagian besar orang dari semua lapisan marasyarakat dari waktu ke waktu selama PPKM Darurat ini.

Walaupun demikian, sebaiknya kita terus menebarkan kata “sabar” ketika kita ngobrol ngarol ngidul tentang siatuasi sulit selama PPKM Darurat ini. Dalam rangka mengurangi dan menghindari rasa putus asa banyak orang. Agar masyarakat tetap positive thinking dan tetap menggunakan kata “sabar” untuk mengurangi perasaan negatif dalam menjalani situasi sulit ini.

Baca Juga: Nasib PPKM Darurat Diperpanjang Atau Tidak Ditentukan Hari Ini

Yang paling penting kita harus tetap bisa menjaga emosi dan mengkontrol pilihan kata positif dan tepat kepada teman bicara kita agar tidak memicu tambah runyamnya situasi ini. Penggunaan terus menerus kata “sabar” yang positif ini akan menunjukkan dan merepresentasikan kita bahwa kita tetap bisa menjaga emosi positif yang bisa mempengaruhi rasa cemas orang lain serta akan tetap menjaga hubungan social dengan banyak orang.

Penulis adalah dosen Pendidikan Bahasa Inggris STKIP PGRI Jombang, dan pengurus DPP CEBASTRA.

+ posts
- Advertisement -
AnyFlip LightBox Embed Demo
BERITA TERBARU
- Advertisement -spot_img
Popular
terkait
- Advertisement -spot_img