Sungguh Terlalu, Pedagang Pentol Mojokerto Ditipu Uang Palsu Rp 100 Ribu

  • Whatsapp
Pedagang pentol bernama Gatot (42) warga Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, menunjukkan uang palsu yang ia terima dari pembeli jahat.
banner 468x60

NOKTAHMERAH.COM-MOJOKERTO- Sungguh terlalu, pedagang pentol di kawasan Dam Rolak Songo, Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto ditipu. Pedagang kecil itu menerima lembaran uang palsu senilai Rp 100 ribu rupiah dari seorang pembeli.

BACA JUGA: HPN 2021, PWI Mojokerto Gelar Baksos ke Panti dan Ziaroh Makam Senior Pewarta – Imperiumdaily.com

Bacaan Lainnya

BACA JUGA: Sempat Dibawa Ke Mapolres Mojokerto, Polisi Pulangkan Rekan Terduga Teroris – Nusadaily.com

Gatot (42) warga Kelurahan Wates, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto, memberi penjelasan. Peristiwasaat itu sekitar pukul 18.00 WIB, pada Kamis, 25 Februari 2021 petang.

Dirinya yang berjualan pentol di sekitar tikungan jembatan Rolak Songo masih dalam keadaan sepi pembeli. Tak berselang lama, datang pemuda berusia kisaran 20 tahun menggunakan sepeda motor Megapro.

Tak ayal, dirinya yang merasa senang mendapatkan orderan yang cukup banyak itu. Pembelinyapemuda berjaket dan celana pendek langsung melayani tanpa pikir panjang lagi.

“Saat itu dia pesennya Rp 20 ribu. Karena banyak, ya saya semangat,” akunya, Sabtu, 27 Februari 2021.

Gatot mengaku, usai menerima pesanan, saat itu juga pelaku memberi uang pecahan Rp 100 ribu kepadanya. Sesuai dengan harga, dia memberi kembalian ke pelaku sebanyak Rp 80 ribu. Setelah menerima kembaliannya, pelaku pun buru-buru meninggalkan lokasi.

“Saya gak tau kalau itu uang palsu, jadi saya langsung terima saja. Terus langsung saya kembalikan uangnya Rp 80 ribu, soalnya beli cuman Rp 20 ribu,” imbuhnya soal kisah sungguh terlalu ini.

Pedagang Kecil Tertipu Uang Palsu

Pria berkumis ini, mengaku tidak langsung menyadari bahwa uang yang diterimanya tersebut merupakan uang palsu. Dia baru menaruh curiga ketika uang itu dipakainya untuk membeli rokok di warung sekitar lokasi.

“Pas saya pakai buat beli rokok, uangnya dikembalikan lagi. Katanya duit ini palsu,” katanya sambil menunjukkan uang pecahan Rp 100 ribu itu.

Uang tersebut diduga palsu karena ciri-cirinya berbeda jauh dengan uang asli. Mulai dari teksturnya yang lebih halus dari uang asli. Hal ini juga telihat dari kertasnya yang lebih tipis dan mudah lecek.

Selain itu juga tak tampak pita benang yang melintang di kertas uang. Namun, satu hal yang paling membedakan, tidak ditemukan gambar tokoh ketika uang tersebut diterawang di bawah cahaya.

Dia mengaku tidak mengetahui persis identitas pelaku. Namun, dari ciri-cirinya, pelaku kerap terlihat di sekitar lokasi.

“Tapi saya sering lihat anak ini (pelaku) sering ngopi di warkop sekitar sini,” bebernya.

Menurutnya, penipuan dengan uap palsu ini tidak hanya dialaminya. Beberapa waktu yang lalu seorang penjual bakso di Desa Lengkong, Kecamatan Mojoanyar, juga menjadi korban uang palsu.

“Modusnya sama. Ada yang membeli dagangan dengan uang pecahan Rp 100 ribu yang ternyata palsu,” pungkasnya.(din/cak)