Tiga Siswi SPI Dugaan Pelecehan Seksual Jalani Visum, Komnas PA: Tersimpan Petaka di Situ

  • Whatsapp
banner 468x60

NUSADAILY.COM-KOTA BATU– Ketiga siswi Selamat Pagi Indonesia (SPI) Kota Batu menjalani visum di RS Bhayangkara Polda Jatim (Senin, 31/5). Mereka merupakan korban dugaan kasus pelecehan seksual yang dilakukan pendiri SPI berinisial JE.

Bacaan Lainnya

Kasus ini mencuat tatkala Komnas Perlindungan Anak (PA) mendampingi ketiga korban saat melapor ke Polda Jatim pada Sabtu kemarin (29/5). Bahkan Komnas PA menyebutkan ada belasan korban yang menjadi korban pelecehan seksual.

Tak hanya itu, Komnas PA menyebutkan terjadi kekerasan fisik maupun verbal kepada sejumlah korban. Diendus pula praktik eksploitasi ekonomi dengan mempekerjakan anak melebihi jam kerja dan diupah tak layak.

“Bungkusnya sekolah tapi praktiknya terjadi eksploitasi ekonomi. Ini persoalan serius kejahatan luar biasa. Karena ini kejahatan kemanusian maka Komnas PA peduli sehingga meminta pertanggungjawaban pelaku,” kata Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait saat mendampingi tiga korban melapor ke Polda Jatim beberapa hari lalu.

Kejadian tragis itu membuat publik terutama masyarakat Kota Batu terhentak. Karena selama ini SPI memiliki reputasi mentereng dengan sederet prestasi. “Namun di sekolah itu ada sumber petaka bagi puluhan peserta didik perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual berulang-ulang oleh pemilik,” timpal Aris.

Pemkot Batu dan Komnas Anak Beri Pendampingan

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Batu, MD Furqon menuturkan, pihaknya bersama Komnas PA memberikan pendampingan proses visum kepada tiga korban. Karena perkara tersebut berkaitan dengan anak yang merupakan kewenangannya.

“Pendampingan kami lakukan karena proses hukumnya masih lama. Mulai dari visum yang dilakukan hari ini, BAP, Sidang setelah itu baru bisa dilihat terbukti salah atau tidaknya,” ujar Forkan.

Dia menjelaskan, setelah melalui serangkaian proses tersebut, korban yang saat ini masih menjadi terduga dan apabila selanjutnya benar-benar menjadi korban. Pihaknya akan langsung melakukan pendampingan secara psikologis kepada setiap korban. Mulai dari sang anak, keluarga dan lingkungannya.

“Untuk memulihkan kondisi korban, kami juga akan melakukan trauma healing. Karena jika benar-benar terbukti, dampak pada kondisi psikologis sangat luar biasa. Karena kejahatan seperti ini adalah kejahatan yang begitu sangat luar biasa. Sehingga harus memerlukan penanganan yang luar biasa pula,” tegasnya.

Kata dia, untuk visum yang dijalani pada hari ini, meliputi visum bekas-bekas kekerasan fisik. Contohnya seperti bekas tamparan. “Proses visum sudah dimulai sejak pukul 10.00 WIB. Biasanya visum akan berjalan selama 7-8 jam. Sedangkan untuk hasilnya akan dibawa langsung oleh tim penyidik,” katanya.(wok/aka)

Pos terkait

banner 468x60