Watu Gede, Gerbang Kerajaan Gaib Alas Ketonggo Ngawi

  • Whatsapp
Alas Ketonggo
banner 468x60

NOKTAHMERAH.COM – NGAWI – Alas Ketonggo atau Alas Srigati merupakan daerah yang sarat akan sejarah dan misteri. Tak heran jika tempat tersebut didatangi orang dari berbagai daerah dengan berbagai macam tujuan.

Alas Ketonggo, secara harfiah, “alas” berarti hutan, dasar pokok atau keramaian. Ketonggo berasal dari kata “katon” (terlihat) dan “onggo” (makhluk halus) atau makhluk halus atau kehidupan yang halus yang katon atau kelihatan.

Bacaan Lainnya

Alas Ketonggo, adalah hutan dengan luas kurang lebihnya 5000 meter persegi, yang berada lereng Gunung Lawu tepatnya di Desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, dengan waktu tempuh sekitar satu jam dari pusat kota Ngawi.

Alas Ketonggo dulunya adalah tempat peristirahatan Prabu Brawijaya V setelah lari dari kerajaan Majapahit karena diserbu oleh Demak dibawah pimpinan Raden Patah.

Di tempat itu, terdapat Pelenggahan Agung yang banyak dijadikan sebagai tempat bermeditasi bagi mereka yang ingin ngalap berkah.

Masyarakat sekitar percaya bahwa Pelenggahan tersebut merupakan tempat dimana Raden Wijaya bertapa mencari petunjuk sebelum membangun kerajaan Majapahit.

Di Alas Ketonggo juga terdapat sebuah batu besar yang biasa di sebut “Watu Gede”, konon disinilah pintu gerbang kerajaan “Dunia Lain” yang ada disana.

Selain itu disini ada sebuah tempat bertemunya dua muara sunga yang disebut “Kali Tempuk” yang sering digunakan untuk mandi bagi mereka yang mendalami ilmu kekebalan, agar awet muda, dan berbagai tujuan lainnya.

Dilansir dari kompasiana, seorang narasumber asal Tuban menceritakan pengalaman mistisnya, yakni tersesat di perkampungan jin di Alas Ketonggo.

Narasumber tersebut mulanya bingung memilih jalan bercabang di sekitar Kali Tempuk. Sebelum dia tersesat, kabut tebal sempat menyelimuti perjalanannya.

Setelah kabut menghilang terdapat sebuah kampung dengan warga sedang melakukan aktivitas. Karena bingung jalan kembali dan takut tersesat, rombongan narasumber tersebut bertanya kepada seorang wanita yang ada di dekatnya.

Wanita itu tampak merunduk, dan tak mau memperlihatkan wajahnya. dia hanya berujar lurus saja, nanti juga sampai. Karena penasaran dengan wajahnya, narasumber memberanikan diri kembali dan membeli gorengan, kebetulan wanita tadi adalah si pemilik toko yang dilewati narasumber.

Nihil, narasumber hanya kembali dengan sebungkus plastik gorengan. Setelah berhasil kembali, mereka menanyakan hal tersebut pada pakuncen. Benar saja, mereka tersesat di kampung jin.

Satu hal yang lebih meyakinkan adalah saat salah satu rekan narasumber mendapati jika sebungkus plastik gorengan tersebut berubah menjadi daun jati dan beberapa lembar daun kering, lengkap dengan uang yang digunakan untuk membeli. (asl)